INDONESIA PENGHASIL KINA TERBESAR DI DUNIA

Sejarah mencatat, Indonesia pernah menjadi penghasil kina terbesar di dunia. Bahkan pada era 1940-an, 90 persen kebutuhan bubuk kina di dunia dipasok dari Indonesia. Jawa Barat merupakan provinsi pertama penghasil bahan pembuat obat malaria itu.

Tahukah Anda di mana pertama kali pohon kina ditanam di Indonesia? Jawabannya adalah Kampung Genteng, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Di sana, Franz Wilhelm Junghuhn, ahli botani kelahiran Mansfeld/Magdeburg Prusia, pertama kali menanam pohon kina. Nama Junghuhn pun melambung di Hindia-Belanda saat itu.

Didi Rukmana (68), sesepuh warga setempat, menceritakan perihal sejarah pohon kina di Bandung Barat. Pada 1830-an, Junghuhn datang ke Indonesia dari Belanda. Sebelum ke Indonesia, Junghuhn sempat transit di India.

Dari India, ia membawa sejumlah bibit kina. Namun saat itu membawa bibit kina merupakan ilegal. Otak cerdik Junghuhn pun bekerja untuk menyiasati itu.

“Dari India, Junghuhn menyembunyikan bibit kina di bagian bawah sepatunya,” ucap Didi.

Junghuhn lalu tiba di Batavia. Dari sana, ia pergi ke kawasan Lembang untuk menanam pohon kina. Tanpa disangka, kina yang ditanamnya tumbuh dengan baik.

Singkat cerita, tanaman itu lalu dikembangkan dan ditanam di sejumlah daerah lain di Jawa Barat. Junghuhn pun dipercaya Pemerintah Hindia-Belanda untuk mengelola perkebunan kina di Jabar pada periode 1856-1864.

Hasil jerih payah Junghuhn mengelola kina baru terwujud 50 tahun kemudian. Hingga akhirnya, Bandung dikenal sebagai ibu kota Kina. Indonesia pun melambung sebagai surga pohon kina.

Untuk menghargai jasa Junghuhn, pemerintah mendirikan sebuah kawasan yang diberi nama Cagar Alam Junghuhn pada 1970-an. Lokasi itu kini dikenal dengan nama Taman Junghuhn.

Sebuah tugu berdiri disertai taman di sekelilingnya. Makam Junghuhn juga terletak di lokasi sekitar.

“Dulu taman ini luasnya 2,5 hektare, tapi sekarang tinggal 1,5 hektare,” ungkap Didi.

Sayang, taman tersebut terbengkalai sejak dua tahun terakhir karena tidak ada yang mengelolanya. Dulu, taman tersebut dikelola dan dirawat oleh Labudin Soeharto, warga setempat. Akibat jasanya itu, Labudin diangkat menjadi PNS.

Kondisi taman sangat tidak terawat. Sampah berserakan di mana-mana dan terkesan kumuh. Tugu yang berdiri gagah itu kini berwarna kusam. Kursi besi di sekitar taman pun berkarat.

Meski begitu, Taman Junghuhn jadi tempat yang akrab bagi warga sekitar. Dari generasi ke generasi, Taman Junghuhn jadi tempat bermain anak-anak.

Terbengkalainya Taman Junghun ditengarai karena tidak jelasnya pengelolaan. Di dekat pintu masuk, memang tertulis pengelolaan itu ada di tangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Namun entah apa peran BKSDA sehingga taman itu jadi terbengkalai.

Perhatian dari pemerintah setempat juga tidak terlihat saat Lembang masih masuh wilayah Kabupaten Bandung. Setelah masuk ke wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) sejak 2007, pemda setempat juga tidak merawat keberadaan taman tersebut.

“Warga sih sebenarnya berharap taman ini dikelola dengan baik dan diperbaiki. Ini kan tempat bersejarah,” harap Didi.

Selama ini, taman dirawat oleh warga setempat meski tidak bisa maksimal. Ia berharap ada campur tangan pemerintah karena perawatannya butuh biaya besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s