TIDAK PERLU WALIKOTA

MANAJER KOTA

23 Juli 2013 pukul 11:43

 

Oleh Desri Ayunda
Calon Walikota Padang

Dalam sebuah dialog Forum Editor yang disiarkan secara luas oleh seluruh media di Padang dan Bukittinggi beberapa waktu lalu, wartawan Nazrul Azwar bilang, “Padang tak perlu walikota, sebab tak ada yang beres diurus pemerintah. Rakyat mengurus dirinya sendiri.”
Saya hadir dalam dialog itu bersama bakal calon walikota lainnya, seperti Asnawi Bahar, Wahyu Iramana Putra, Feriyanto Gani, Yusman Kasim, Andre Rosiade dan sahahat saya Prof. James Hellyward.

 

Oleh host acara itu, Khairul Jasmi, ketua Kadin Asnawi Bahar diberi kesempatan pertama menanggapi Nasrul Azwar, karena Asnawi tersenyum mendengar pernyataan di wartawan. Saya juga tersenyum dan dapat kesempatan kedua.

 

Ketika menyampaikan pendapat, saya bilang, Padang lebih membutuhkan seorang manajer,

bukan walikota yang birokratif. Manajer kota adalah orang yang mengatur segala sesuatunya dengan profesional. Nyaris tidak terlihat atasan bawahan, tapi lebih tampak ia sedang bekerja bersama timnya yang solid. Kata saya, Padang butuh manajer, karena melihat kondisi yang ada saat ini.

 

Saya dan sejumlah orang saat ini sedang mencoba untuk maju dalam pilkada Padang. Tidak tahu niat yang lain, tapi, saya mau maju bukan untuk jabatan apalagi uang. Uang saya cukup, jabatan juga ada. Anak saya bahkan melampaui prediksi saya, ia menjadi pekerja profesional yang suskes dengan gaji membuat saya geleng-geleng kepala.

 

Saya maju karena saya lahir dan dibesarkan di sini. Sebagai warga Padang dari Koto Tangah, saya menyaksikan kota ini tumbuh sampai seperti sekarang. Terakhir kota yang kita cintai ini berkembang kurang baik, sebangun dengan pergerakan reformasi. Nyaris tak terarah.

 

Tentu saja warga kota dan tiap kandidat walikota punya gambaran, rencana dan visi yang tajam untuk membangun kota. Persoalannya selama ini, justru visi misi itu putus di ujung periode, atau bahkan sama-sekali tak dipakai oleh yang membuat visi tersebut. Maka kemudian kota berkembang sesuai kehendak kepala bahkan staf di SKPD. Ahli perencanaan di Bappeda yang sudah bekerja siang malam menggunakan segenap ilmunya, terpaksa gigit jari karena berantakan di tangan sang pemimpin atau terbentur di ruang sidang DPRD.
Kota kemudian dibangun dengan tambal sulam, sementara fasilitas umum terabaikan. Seharusnya semua gerak pembangunan dalam sebuah wilayah harus ditujukan untuk kepentingan umum. Bukankah tugas utama pemerintah itu meliputi tiga hal. Ketiganya, membangun fasilitas umum, memberikan pelayanan publik dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

 

Kita sering mendengar jawaban rakyat kecil tatkala ditanya wartawan, “Samo senyo, ado ndak ado walikota, nasib kami urang ketek ko indak ka barubah doh.” Kenapa rakyat menjawab seperti itu? Minimal ada dua sebab, pertama si rakyat apatis dan menganggap pemerintahlah yang harus mengurus nasibnya. Ia cenderung melempar kesalahan ke luar dirinya sendiri, dalam hal ini pada pemerintah. Kedua karena pemerintah memang tidak bekerja untuk tiga hal yang disebut di atas. Bagaimana bisa bekerja jika anggaran terserap lebih 70 persen untuk gaji PNS. Karena itulah lumrah terlihat lampu pengatur lalu lintas banyak yang rusak, riol tersumbat, mobil pengangkut sampah sudah reot, mobil pemadam kebakaran sudah tua. Ini terjadi karena uang pemerintah tidak cukup.

 

Dalam kondisi keterbatasan dana itulah antara lain diperlukan manajer kota. Dalam teori yang diakui secara luas di dunia, ekonomi bisa bergerak, jika rakyat bekerja. Orang yang bekerja akan dapat gaji atau upah dan kemudian mereka datang ke pasar untuk berbelanja. Untuk bisa bekerja perlu lapangan kerja. Untuk membuka lapangan kerja selain pemerintah, perlu pihak ketiga, yaitu swasta.
Swasta bisa berinvestasi. Tak perlu besar-besar, sebuah ruko saja, bisa mempekerjakan tiga orang. Ini negeri seribu ruko, tapi daya beli tak seberapa. Kelas menengah kota Padang lebih suka berbelanja ke Jakarta, karena sekalian berlibur dan memanjakan diri.

 

Kita punya impian, Padang menjadi halaman depan rumah kita masing-masing. Tempat kita dan seluruh anggota keluarga bekerja, bermain dan menikmati senja yang indah. Saya seperti juga pembaca sekalian mencintai kota ini. Jika tiap kita menjaga bibit cinta untuk kota sendiri, maka Padang akan berkembang dengan sangat baik.
Kadang kita iri dengan Pekanbaru yang berkembang sangatlah pesatnya. Saya menemukan warga Padang (bukan warga keturunan) yang sudah pindah ke sana, membeli rumah minimalis dan menikmati hidup bersama keluarganya di sana. Ke Padang, hanya malapeh taragak saja.

 

Kenapa kota kita tak bisa seperti itu. Kenapa jika Padang atau Sumbar, banyak benar masalah? Saya kira memang perlu kita memandang ke dalam diri masing-masing.
Untuk memperbaiki kondisi, mulailah dengan memilih pemimpin yang manajerial. (*)

One thought on “TIDAK PERLU WALIKOTA

  1. selagi niat belum dilurskan, jangan harap kota ini akan berubah,
    kita selalu punya rencana besar, semakin besar rencana kita semakin membuat kita lupa pada Yang Maha Besar (Allah). kalaulah kita runut lebih dalam, disinilah manusia terkadang lupa bahwa mereka berkuasa melebihi kuasa Allah.
    sehebat apapun rancangan manusia, jika Allah tidak menghendaki, maka rencana itu tidak akan terwujud.
    pertanyaannya,
    1. SEJAUH APA KITA MENYAKINI ITU?
    2. Seberapa yakin kita dengan apa yang kita rancang sudah termasuk kategori yang diredhoi Allah?
    3.Seberapa ikhlas kita mengemban amanah ?
    4. ……… siapkah kita memulainya dari pendidikan dan pembinaan Iman dan menjadi orang yang pertama yang memberikan suri tauladan ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s