SESAL WAKIL RAKYAT

941217_3346478756544_217505574_n
12 Juli 2013 pukul 19:59

Ia sadar, lawan terlalu berat kini. Bahkan dia sendiri tidak percaya benar apakah akan dapat mempertahankan kursi kekuasaan ini untuk 5 tahun ke depan. Ia tahu diri, karena sejak duduk di kursi ini, ia menghindari diri bertemu dengan masyarakat pemilihnya. Ia hanya menikmati “nikmat” duduk di kursi. Pernah sekali dua ketika baru dilantik ia turun ke masyarakatnya, tapi apa yang ia dapati. Pertama, tiap turun butuh biaya. Masyarakat terlalu sering meminta apa-apa kepadanya.

“Dulu saya mendukung Bapak, sekarang tolong dukung biaya untuk istri saya yang hendak melahirkan!” kata seorang lelaki pendukungnya.

“Tolong bantu biaya sekolah anak-anak saya!”

“Tolong perbaiki jalan buruk di depan rumah saya!”

“Tolong tambah uang DP saya utk beli motor biar saya bisa ngojek!”

“ Listrik saya hendak dicabut, tolong diurus Pak!”

“ Tolong pikirkan kemenakan saya tak kerja!”

“ Anak saya tidak dapat sekolah di SMA favorit, minta memo Bapak!”

“ Tolong proyek itu diusahakan untuk saya!”

Ya, banyak betul jenis “tolong” yang diajukan masyarakat kepadanya. Dan itu yang membuatnya enggan turun ke masyarakat.

Bila malam tiba, orang-orang yang mengaku tokoh, pemuka masyarakat tiada henti mengetuk pintu rumahnya. Terkadang hingga pukul satu tengah malam, ada-ada saja tamu yang tiba. Sebagian besar tamu selalu saja mengajukan proposal kepadanya.

Tahun pertama masih bisa ia layani. Tahun kedua, ia merasa terjajah. Ia merasa menjadi “anak buah” orang banyak. Bahkan, honor atau gajinya habis semua; tak ada yang tersisa bagi anak bini. Dan itu yang membuatnya tersiksa. Dan kadang ia menyesal telah menjadi “wakil rakyat” yang telah merampas sebagian kemerdekaan dirinya. Sehingga, waktu untuk berleha-leha dengan keluarga pun nyaris tak ada, telah dirampas oleh kepentingan untuk mengurus orang banyak.

Kini ia terduduk pada sebuah kursi di belakang rumahnya. Sejak dua tahun menjadi anggota DPRD, rumahnya memang tertutup dari tamu. Kalau ada orang yang datang hendak bertamu dengannya, sang pembantu bilang :” Bapak sedang tugas luar!”. Padahal ia ada di belakang rumahnya sendiri menikmati secangkir kopi dan bermain FB.

Itulah yang menjadi persoalannya kini. Untuk Pemilu mendatang ia kembali mencalonkan diri. Namun ia sedang berpikir bagaimana cara untuk kembali “menemui” masyarakatnya yang sejak beberapa tahun ini ia lupakan. Ia juga sadar, banyak kader di partai yang menjauhinya, karena ia dikenal “pelit”.

Ia bisa diterima mencalonkan diri di partai ini lantaran ia dekat dengan pengurus teras dan ia juga masih tercatat sebagai pengurus papan atas di partainya itu.

Ia tak memungkiri, selama menjadi anggota DPRD, banyak nikmat materi dan nikmat sosial yang telah ia dapati. Sejak jadi anggota, rumahnya yang dulu biasa saja sudah direhab menjadi rumah yang tidak biasa. Mobilnya yang dulu butut kini telah berganti dengan mobil mengkilap. Sekalipun dikredit tapi tetap saja tidak menyusahkan keuangannya.

Tabungan yang ia miliki juga sudah lumayan.Lumayan untuk hidup “sampai mati”.

Tapi ia belum sempat “membangun” untuk lebih mapan.

Itulah yang ia sesali.

Untuk itu pula ia berniat maju satu kali lagi.

Sekiranya ia tahun ini gagal mendapat kursi, maka otomatis ia akan kembali berstatus “pengangguran”. Segala sesuatu yang telah ia kumpulkan, bila dikuras terus menerus, lama-lama juga akan habis. Dan ini membuat ia gamang.

Apalagi gaya hidup sang istri juga tak seperti dulu lagi. Dulu bersahaja, kini tidak begitu. Hobi istrinya masuk plaza keluar plaza. Libur tak lagi sekedar ke bali, tapi ke Thailand atau ke Singapura. Anak-anaknya juga sangat konsumtif. Itu yang membuatnya pening! Pening memikirkan bagaimana cara mengobati hati masyarakatnya yang telah terluka ulah aksinya yang menjauhkan diri dari mereka.

Ia hirup rokok dalam-dalam. Dalam benar. Saking dalam, mengilu ke dada. Ia pegang dadanya yang sakit. Makin ia pegang, makin jelas terasa. Kemudian rokok di tangannya terlepas sendiri. Tangannya itu pun ia rasakan seperti lepas pula. Sebagian tubuhnya serasa lepas. Tak sadar ia rebah sendiri. Tapi matanya masih terbuka. Kesadarannya masih ada. Namun untuk mengucapkan sepatah kata saja ia seakan kehilangan tenaga.

***

“Tokoh kita yang satu ini wafat karena memikirkan rakyatnya!” bisik mantan tim suksesnya yang pernah ia lupakan, ketika prosesi pemakamannya sedang berlangsung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s