INDONESIA PENGHASIL KINA TERBESAR DI DUNIA

Sejarah mencatat, Indonesia pernah menjadi penghasil kina terbesar di dunia. Bahkan pada era 1940-an, 90 persen kebutuhan bubuk kina di dunia dipasok dari Indonesia. Jawa Barat merupakan provinsi pertama penghasil bahan pembuat obat malaria itu.

Tahukah Anda di mana pertama kali pohon kina ditanam di Indonesia? Jawabannya adalah Kampung Genteng, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Di sana, Franz Wilhelm Junghuhn, ahli botani kelahiran Mansfeld/Magdeburg Prusia, pertama kali menanam pohon kina. Nama Junghuhn pun melambung di Hindia-Belanda saat itu.

Didi Rukmana (68), sesepuh warga setempat, menceritakan perihal sejarah pohon kina di Bandung Barat. Pada 1830-an, Junghuhn datang ke Indonesia dari Belanda. Sebelum ke Indonesia, Junghuhn sempat transit di India.

Dari India, ia membawa sejumlah bibit kina. Namun saat itu membawa bibit kina merupakan ilegal. Otak cerdik Junghuhn pun bekerja untuk menyiasati itu.

“Dari India, Junghuhn menyembunyikan bibit kina di bagian bawah sepatunya,” ucap Didi.

Junghuhn lalu tiba di Batavia. Dari sana, ia pergi ke kawasan Lembang untuk menanam pohon kina. Tanpa disangka, kina yang ditanamnya tumbuh dengan baik.

Singkat cerita, tanaman itu lalu dikembangkan dan ditanam di sejumlah daerah lain di Jawa Barat. Junghuhn pun dipercaya Pemerintah Hindia-Belanda untuk mengelola perkebunan kina di Jabar pada periode 1856-1864.

Hasil jerih payah Junghuhn mengelola kina baru terwujud 50 tahun kemudian. Hingga akhirnya, Bandung dikenal sebagai ibu kota Kina. Indonesia pun melambung sebagai surga pohon kina.

Untuk menghargai jasa Junghuhn, pemerintah mendirikan sebuah kawasan yang diberi nama Cagar Alam Junghuhn pada 1970-an. Lokasi itu kini dikenal dengan nama Taman Junghuhn.

Sebuah tugu berdiri disertai taman di sekelilingnya. Makam Junghuhn juga terletak di lokasi sekitar.

“Dulu taman ini luasnya 2,5 hektare, tapi sekarang tinggal 1,5 hektare,” ungkap Didi.

Sayang, taman tersebut terbengkalai sejak dua tahun terakhir karena tidak ada yang mengelolanya. Dulu, taman tersebut dikelola dan dirawat oleh Labudin Soeharto, warga setempat. Akibat jasanya itu, Labudin diangkat menjadi PNS.

Kondisi taman sangat tidak terawat. Sampah berserakan di mana-mana dan terkesan kumuh. Tugu yang berdiri gagah itu kini berwarna kusam. Kursi besi di sekitar taman pun berkarat.

Meski begitu, Taman Junghuhn jadi tempat yang akrab bagi warga sekitar. Dari generasi ke generasi, Taman Junghuhn jadi tempat bermain anak-anak.

Terbengkalainya Taman Junghun ditengarai karena tidak jelasnya pengelolaan. Di dekat pintu masuk, memang tertulis pengelolaan itu ada di tangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Namun entah apa peran BKSDA sehingga taman itu jadi terbengkalai.

Perhatian dari pemerintah setempat juga tidak terlihat saat Lembang masih masuh wilayah Kabupaten Bandung. Setelah masuk ke wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) sejak 2007, pemda setempat juga tidak merawat keberadaan taman tersebut.

“Warga sih sebenarnya berharap taman ini dikelola dengan baik dan diperbaiki. Ini kan tempat bersejarah,” harap Didi.

Selama ini, taman dirawat oleh warga setempat meski tidak bisa maksimal. Ia berharap ada campur tangan pemerintah karena perawatannya butuh biaya besar.

PKL Bersitegang dengan Satpol & Polisi

Digusur, PKL Bersitegang dengan Satpol PP & Polisi

Tri Ispranoto – Okezone
Sabtu, 16 November 2013 11:22 wib
detail berita

Satpol PP (Foto: Tri/Okezone)

BANDUNG – Tim gabungan TNI, Polri, Satpol PP, dan Dishub Kota Bandung menyikat habis pedagang kaki lima di depan Pasar Baru, Jalan Otto Iskandardinata (Otista), Bandung.

Kasubag Humas Polrestabes Bandung, Kompol Rosdiana, menjelaskan tim gabungan bekerja untuk menindaklanjuti hasil rapat dengan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil (RK).

“Target operasi kali ini adalah para PKL dan parkir liar. Mereka ditertibkan karena dinilai mengganggu ketertiban dan arus lalu lintas disekitar Pasar Baru,” jelasnya kepada Okezone di lokasi penertiban, Sabtu (16/11/2013).

Dalam operasi kali ini, sedikitinya 200 personel gabungan dilibtakan. “200-an itu yang ikut apel, tapi di lapangan tim gabungan bertambah. Itu agar operasi ini lebih efektif,” ucapnya.

Dari pantauan, penertiban kali ini diwarnai sedikit gesekan antara para pedagang yang bergabung dengan salah satu ormas dan tim gabungan yang melakukan penertiban.

Namun setelah berdiskusi dan diberi pengertian, akhirnya para PKL bersedia untuk ditertibkan. Dalam operasi kali ini, tim juga mengamankan beberapa barang dagangan milik PKL.

Hingga pukul 10.40 WIB, tim gabungan masih melakukan penertiban PKL. Sementara di sisi lain, anggota Satlantas Polrestabes Bandung juga melakukan razia kendaraan di jalan sekitar Pasar Baru.

DAHULU GUBERNUR YANG SALAH SEKARANG RAKYAT YANG SALAH

Musim hujan sudah datang, itu artinya untuk mereka yang tinggal di Jakarta pasti akan mengingat sebuah kata yang mungkin sangat mereka benci dan tidak mereka harapkan kehadiranya yaitu bernama “BANJIR”.

Bicara soal Banjir di Jakarta, rata-rata orang yang mengalami musibah banjir, biasanya akan mencari tahu kira-kira apa yang menyebabkan banjir di Jakarta?

Saat kita sudah bicara soal apa penyebab banjir, disinilah biasanya sering menimbulkan perdebatan dan tidak jarang saling menyalahkan serta mencari “kambing hitam” siapa yang layak dan pantas DISALAHKAN?

Jika sudah bicara saling mencari siapa yang salah, maka yang sudah bisa dipastikan masing-masing pihak sudah sulit untuk melihat diri mereka masing-masing untuk melakukan koreksi diri.

Yang saya maksud koreksi diri terkait masalah banjir disini yaitu, sebuah kesadaran dari masing-masing individu warga negarakhususnya warga DKI Jakarta dan sekitarnya untuk mencoba BERANI koreksi diri dan berani bertanya pada diri sendiri “apakah banjir ini kesalahan orang lain atau kesalahan saya yang juga menjadi penyebab atas musibah banjir di Jakarta?”.

Jangan-jangan seringkali kita berkoar-koar menyalahkan orang lain akan tetapi kita tidak pernah sadar jika kita selalu buang sampah sembarangan, malas membersihkan sampah-sampah di got sekitar rumah kita, dan kebiasaan-kebiasaan buruk lainya yang ternyata bisa menjadi penyebab banjir yang seringkali datang di setiap musim penghujan.

Bicara Banjir sudah bisa dipastikan TIDAK MUNGKIN hanya disebabkan oleh satu orang saja.

Semua pihak yang tinggal di Jakarta dan di sekitar Jakarta sangat mungkin menjadi bagian dari terjadinya banjir di Jakarta.

Pihak-pihak yang memungkinkan untuk menjadi penyebab terjadinya banjir yaitu diantaranya:

Warga yang selalu membuang sampah sembarangan

Ini sudah diajarkan sejak kita kecil bahwa dengan membuang sampah sembarangan bisa dipastikan bisa menyebabkan banjir. Jika yang membuang sampah hanya satu orang saja mungkin tidak terlalu cepat terasa. Tapi bayangkan jika semua warga Jakarta setiap hari bahkan setiap menit dan detik selalu ada yang membuang sampah sembarangan di jalan, di sungai, di got, dan di tempat-tempat lainya, maka dipastikan saat hujan sampah-sampah itu akan menumpuk dan menyumbat dan menghalangi aliran air. Jika sudah begitu, jangan terkejut jika saat hujan pasti akan terjadi banjir.

Saluran Drainase, Jumlah Resapan dan Sungai yang Kurang Baik

Penyebab banjir salah satunya yaitu saluran drainase dan aliran sungai yang tidak baik. Kondisi baik tidaknya saluran drainase dan sungai bisa dilihat dengan mata telanjang biasa atau berdasarkan analisa.

Bisa dilihat dengan mata telanjang maksudnya secara fisik kita bisa melihat apakah saluran drainase atau aliran sungai sudah dikelola dengan baik atau belum. Misalnya aliran sungai dan saluran drainase dibuat terlalu dangkal dengan bangunan yang sangat rapuh. Jika kondisi seperti itu berarti menunjukan jika saluran drainase dan sungai tersebut buruk dan itu bisa dilihat langsung.

Cara lain untuk menentukan sebuah saluran drainase dan aliran sungai dinyatakan buruk tidaknya bisa dilihat dengan menganalisa secara keilmuan. Cara ini tentunya harus dilakukan oleh ahlinya. Caranya bisa dengan menganalisa antara luas seluruh area DKI Jakarta dan sekitarnya kemudian membandingkan dengan jumlah resapan yang kemudian disesuaikan dengan debit air hujan setiap datang musim hujan.

Jika dibuatkan secara perbandingan yang tepat, maka saat membuat saluran drainase bisa disesuaikan dengan hasil analisa tersebut. Jika jumlah saluran drainase dan aliran sungai tidak sebanding dengan jumlah debit air hujan, maka bisa dipastikan jika saluran drainase dan aliran sungai tersebut buruk sehingga bisa menyebabkan terjadinya banjir. Hal ini diperburuk dengan kebiasaan warga yang membuang sampah sembarangan sehingga hal itu bisa menyempurnakan menjadi penyebab terjadinya banjir.

Sebenarnya kalau mencari penyebab dan kesalahan orang lain masih banyak dan sangat mudah dan menemukanya. Tapi itu selamanya tidak akan pernah selesai selama pola pikir yang ada di otak kita hanya mencari kesalahan orang lain dan faktor lain dalam diri kita.

Jika sudah seperti itu, maka yang terjadi selamanya akan terbagi dua kelompok yang selamanya hanya berfikir saling menyalahkan. Kedua kelompok yang saling menyalahkan tersebut secara garis besar terbagi menjadi 2 kelompok.

  • Kelompok yang Selalu Menyalahkan Gubernur yang Tidak Bisa Mengurus Jakarta.

Kelompok ini biasanya terbentuk karena faktor yang beragam, diantaranya mereka orang-orang politik lengkap dengan balatentara fanatik-fanatik partai yang siap mati untuk partainya, yang bisa dipastikan sangat mungkin akan selalu memanfaatkan isu banjir ini untuk menjatuhkan gubernur yang berkuasa.

Kelompok lain yang berfikir untuk menyalahkan Gubernur biasanya sekelompok orang yang tidak mau koreksi diri mereka yang penting mereka sudah pilih seorang Gubernur Jakarta, jadi tahu atau tidak masalah penyebabnya yang penting Gubernur yang salah titik. Padahal tanpa disadari justru penyumbang tertinggi terjadinya banjir sangat mungkin justru karena kebiasaan warga yang suka buang sampah sembarangan di setiap harinya.

Ada juga kelompok yang lainya yang tetap bersikukuh bahwa penyebab banjir tetap salah Gubernur yaitu sekelompok warga yang memang sudah melakukaan cara hidup sehat dengan membuang sampah pada tempatnya, selalu rajin membersihkan lingkunganya akan tetapi kok masih banjir maka mereka wajar menganggap jika dirinya tidak menjadi penyebab atas banjir sehingga Gubernurlah yang mereka anggap salah.

  • Sekelompok Warga yang Berani Mengakui Jika Dirinyalah Bagian dari Penyebab Banjir di Jakarta dan Aktif Memberi Solusi.

Untuk menemukan kelompok yang seperti ini sangat sulit, dan jumlahnya bisa dikatakan sedikit. Hal ini terbukti dengan masih seringnya banjir di Jakarta, itu artinya orang yang lebih sadar diri untuk koreksi diri dan berbuat aktif memberi kontribusi untuk menyelesaikan masalah banjir jumlahnya masih sedikit daripada dengan jumlah orang yang kerjanya hanya menyalahkan orang lain tapi dirinya tidak pernah sadar dan merubah kebiasaan dirinya untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Kelompok yang seperti ini bukan berarti kelompok yang tidak pernah memberikan kritik kepada penguasa atau Gubernur. Kelompok yang seperti ini biasanya cara memberikan kritik dengan cara baik-baik meminta kepada Gubernur dan mereka juga menunjukan keseriusan untuk membantu Gubernur untuk mencari solusi atas banjir di Jakarta.

Contoh sederhananya cara orang-orang seperti ini misalnya dengan cara meminta Gubernur untuk membersihkan sungai di sekitar mereka atau minta dibuatkan irigasi yang lebih baguslagi.

Setelah sungai dibersihkan dan diberikan fasilitas irigasi yang sudah baik, mereka berjanji dan membuktikan untuk mulai saat itu tidak akan lagi membuang sampah sembarangan dan akan menjaga irigasi supaya tetap bersih.

Tulisan ini saya buat dengan tidak menyebutkan “merk” atau nama dengan harapan silahkan kalian sebagai warga Jakarta mau ingin bersikap menjadi orang yang seperti apa, itu urusan anda karena andalah yang tinggal di Jakarta, jadi rawatlah Jakarta dengan sebaik-baiknya dengan bekerjasama antara gubernur, warga, dan semuanya.

Sebagai warga yang tinggal diluar Jakarta, saya hanya bosan dan jenuh mendengarkan Ibu Kota Negara saya setiap musim hujan dan banjir yang ada diotak mereka hanya saling menyalahkan saja tapi tidak pernah berbuat untuk menjadi bagian dari seseorang yang berbuat aktif untuk memberikan solusinya.

Sudah saatnya sekarang warppm3 copyga Jakarta harus bekerjasama dan tidak perlu saling menyalahkan, apakah itu salah Gubernur atau Warga, yang pasti selama Jakarta masih terus banjir, maka antara Gubernur dan warga sama-sama berpeluang layak disalahkan. Maka solusinya, warga dan gubernur Jakarta harus jalin kerjasama sehingga pada saatnya nanti jika Jakarta tidak banjir, maka saya akan berani tegas katakan jika Gubernur dan warga Jakarta sudah benar semua :-)

KPK TANGKAP STAF HOTMA

Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi akan membuktikan peran Staf Kepaniteraan di Mahkamah Agung (MA), Suprapto, pada keponakan pengacara Hotma Sitompoel, Mario Cornelio Bernardo. Jaksa akan membeberkan barang bukti di persidangan mendatang.

“Siapakah dia, bagaimana perannya akan terlihat jelas jika telah dilakukan pemeriksaan terhadap materi pokok perkara dengan mendegar keterangan saksi, surat, petunjuk, berupa transkrip pembicaraan dan SMS antara Mario dan Djodi, serta SMS antara Djodi dan Suprapto,” ujar Jaksa Rusdi Amin saat membacakan tanggapan eksepsi Mario di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Jumat (18/10/2013).

Mario sebelumnya mengaku tak mengenal Suprapto. Sementara itu, Mario yang berprofesi sebagai advokat itu didakwa melakukan atau turut serta memberi atau menjanjikan sesuatu berupa uang tunai Rp 150 juta kepada Suprapto melalui Staf Badan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan MA, Djodi Supratman. Pemberian itu diduga terkait penanganan perkara kasasi Hutomo Wijaya Ongowarsito di Mahkamah Agung, sementara Suprapto sendiri dalam kasus ini tidak ditetapkan sebagai tersangka.

“Mengenai status Suprapto yang saat ini belum diajukan ke persidangan adalah sepenuhnya jadi wewenang dari penuntut umum. Untuk mengajukan seseorang ke sidang,” lanjut Jaksa Rusdi.

Kemudian, Jaksa juga menjelaskan, status Koestanto Hariyadi Widjaja, Sasan Widjaja, dan Deden masih sebagai saksi. Koestanto dan Sasan adalah klien Mario. Keduanya yang melaporkan Hutomo ke Polda Metro Jaya atas kasus penipuan dalam pengurusan izin usaha pertambangan di Kabupaten Kampar Riau. Adapun Deden, menurut Jaksa, adalah suruhan Mario untuk memberi uang pada Djodi.

Selain itu, dalam menanggapi eksepsi Mario, Jaksa menilai tim kuasa hukum Mario bersikap tendensius dengan berpendapat dakwaan penuntut umum bukan fakta dan melanggar hukum dalam memeriksa perkara Mario.

Sebelumnya, tim kuasa hukum Mario mengajukan eksepsi atau nota keberatan berjudul “Siapa Suprapto?” Mario mengaku tidak kenal Suprapto. Dia mengatakan banyak uraian jaksa penuntut umum terkait Suprapto yang tidak berdasarkan fakta. Mereka menilai dakwaan sengaja disusun hanya agar Mario dapat dipersalahkan dan dijatuhi hukuman.

Selain itu, Mario mengaku tidak pernah menjanjikan uang kepada Djodi dan tidak tahu mengenai pemberian Rp 150 juta kepada Suprapto melalui Djodi. Dia juga membantah menerima uang dan meminta fee Rp 1 miliar dari kliennya bernama Koestanto Hariyadi Widjaja dan Sasan Widjaja yang melaporkan Hutomo ke polisi. Namun, Mario mengaku memberikan Rp 30 juta kepada Djodi melalui Deden untuk mendapat informasi mengenai apakah sudah ada putusan dari MA terhadap kasus Hutomo.ppm3 copy

JOKOWI BLUSUKAN

Kesalahpahaman terjadi ketika Gubernur DKI Jakarta Joko Widodoblusukan ke Taman Semanggi, Jakarta Pusat, Kamis (14/11/2013) sore.

Seorang laki-laki yang tak diketahui namanya datang ke taman tersebut dengan marah-marah, lalu pergi berlalu dari lokasi blusukan sang Gubernur DKI tersebut.

Peristiwa ini bermula saat Jokowi yang mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana hitam meninjau taman sekaligus rumah pompa yang ada di kupingan Jalan Semanggi.

Di tengah taman itu, Jokowi meninjau rumah pompa yang ada di bawah tanah. Dia pun masuk ke dalam lorong bawah tanah itu untuk mengecek.

Tiba-tiba, dari arah belakang wartawan yang menyorot aksi Jokowi dari atas muncul seorang pria yang berusia 50-an, berambut putih, mengenakan kaus berkerah biru, dan celana pendek.

Laki-laki ini langsung membentak wartawan yang tengah meliput sang Gubernur di dalam lorong rumah pompa itu.

Heihei, ada apa ini. Ada apa ini. Ngapain pada di situ,” bentaknya sambil mendorong wartawan dari pintu lorong rumah pompa itu.

Wartawan yang merasa terganggu pun memberi tahu bahwa ada Gubernur DKI tengah meninjau rumah pompa di lokasi tersebut.

Namun, sang pria yang mengaku berasal dari Dinas Pekerjaan Umum DKI itu tetap ngototmenanyakan mengapa tiba-tiba ada banyak wartawan menyorot rumah pompa di Taman Semanggi.

Sesaat kemudian, ia melongok sendiri ke dalam rumah pompa di depannya yang memiliki kedalaman sekitar 3 meter di bawah tanah.

Melihat benar ada Jokowi di dalamnya, laki-laki tersebut pun pelan-pelan beranjak dari lokasi itu sambil menelepon seseorang.

Mantan Wali Kota Surakarta itu tampak tidak mengetahui kejadian tersebut. Pasalnya, saat kejadian, Jokowi tengah berbincang dengan satu petugas pompa air di dalamnya.

“Tadi di bawah ketemu petugas, katanya pompa bagus,” ujar Jokowi.

Tinjauannya tersebut, lanjut Jokowi, untuk mengecek apakah pompa air serta gorong-gorong di Jalan Semanggi siap untuk menghadapi musim hujan atau tidak.

Menurut Jokowi, salah satu penyebab genangan di jalan-jalan DKI Jakarta diakibatkan oleh matinya pompa air. Ia pun memastikan bahwa pompa ataupun gorong-gorong di Semanggi siap menghadapi musim hujan.ppm3 copy

KPK MEMERIKSA Pardede

Mantan Sekretaris Komite Stabilitas Sistem Keuangan  Raden Pardede diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi selama lebih kurang tujuh jam terkait penyidikan kasus dugaan pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek pada Bank Century dan penetapan Century sebagai bank gagal berdampak sistemik, Rabu (13/11/2013).

Seusai diperiksa, Pardede yang juga Wakil Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) itu mengaku hanya memberikan informasi tambahan kepada penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi seputar rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). ”Intinya adalah kami menjelaskan bagaimana rapat yang dulu dan pengambilan keputusan,” kata Pardede saat keluar dari Gedung KPK.

Namun, Pardede tidak mengungkapkan lebih jauh informasi apa yang dia sampaikan kepada penyidik KPK selama pemeriksaan. Kendati demikian, Pardede mengaku yakin bahwa KPK akan mengungkapkan siapa saja yang bersalah dalam kasus Century ini.

Saat ditanya apakah KSSK mendapat tekanan pihak tertentu saat memutuskan kebijakan bail out, Pardede membantahnya. ”Saya yakin KPK akan menghukum orang yang bersalah, dan membenarkan orang yang benar,” ujarnya.

KPK memeriksa Pardede karena dia dianggap tahu seputar kasus Century. Pardede yang pernah dicalonkan sebagai gubernur BI itu sudah beberapa kali diperiksa sebagai saksi. Dalam kasus ini, KPK baru menetapkan Budi Mulya sebagai tersangka. Ia diduga melakukan penyalahgunaan kewenangan dalam pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) untuk Bank Century dan penetapan Bank Century sebagai bank gagal.

Selain memeriksa Pardede, KPK memanggil saksi lainnya, yakni Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Filiangingsih Endarta, dan mantan direksi Bank Century, Hamidy.ppm3 copy

BUDIDAYA CACING SUTRA

udidaya Cacing Sutra Dari Limbah Kolam Lele

 

Cacing sutra dikenal memiliki kandungan gizi yang tinggi untuk ikan benih, sehingga mampu mempercepat pertumbuhan pada ikan. Namun sayang pasokan cacing sutra lebih banyak mengandalkan tangkapan dari alam sehingga sangat tergantung musim dan tidak bisa diandalkan. Budidaya cacing sutra telah banyak dilakukan para peternak ikan ,namun itu hanya untuk konsumsi sendiri, sehingga peluang usaha bisnis budidaya cacing sutra ini lumayan bagus. Ada satu cara unik dan menarik dalam budidaya cacing sutra yaitu dengan memanfaatkan limbah organik dari kolam lele konsumsi

Jika anda berminat untuk menekuni budidaya cacing sutra ini, beberapa tahapan yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Persiapan Kolam Untuk Budidaya Cacing Sutra

Kolam yang kurang produktif (tidak dipakai untuk budidaya lele) di areal usaha pembesaran ikan lele dapat diperuntukan untuk budidaya cacing sutera dengan luas 60 – 100 m2 (disesuaikan dengan areal yang ada). Air limbah kolam pembesaran lele diaduk-aduk untuk selanjutnya dimasukkan dengan pompa (dengan menyedot) ke kolam budidaya cacing sutera.
2. Pengendapan Air

Air yang masuk di endapkan selama 3-5 hari, selanjutnya bagian atas endapkan air dibuang/diturunkan mencapai 5 – 10 cm dari permukaan lumpur. Lumpur diratakan dengan sorok/kayu untuk selanjutnya dibiarkan selama beberapa hari. Proses ini di ulangi 2 – 3 kali hingga lumpur halus yang ada di kolam cukup banyak.
3. Penebaran Benih

Indukan cacing sutra sebanyak 10 gelas (2-3 liter) ditaburkan kedalam lahan yang sudah siap dan diisi dengan air setinggi 5-7cm.
4. Perawatan Cacing Sutra

Selama masa pemeliharaan cacing sutra , air di usahakan tetap mengalir kecil dengan ketinggian air pada 5-10 cm. Setelah 10 hari biasanya bibit cacing sutra mulai tumbuh halus dan merata di seluruh permukaan lumpur dalam kolam. Ulangi lagi proses penambahan air buangan panen ikan lele ke dalam kolam budidaya cacing sutra maka setelah 2-3 bulan cacing mulai dapat dipanen.

 

Proses Panen Cacing Sutra

Cacing sutra akan tumbuh setelah 2 minggu biang cacing sutera ditebar atau > 2 bulan apabila tanpa penebaran biang cacing sutera. Panen pertama dapat dilakukan setelah cacing berumur > 75 hari. Untuk selanjutnya dapt dipanen setiap 15 hari. Ciri kolam budidaya cacing sutra yang siap untuk di panen adalah apabila lumpur sebagai media pemeliharaan terasa kental bila dipegang.

Waktu panen cacing sutera dilakukan pada pagi/sore hari dengan cara menaikkan ketinggian air sampai 50-60 cm agar cacing naik sehingga mudah dipanen. Cacing dan lumpur di keruk/aduk dengan caduk/garu dimasukkan dalam baskom kemudian dicuci dalam saringan

Cacing yang terangkat masih bercampur lumpur, selanjutnya dimasukkan dalam ember/bak yang berisi air dengan ketinggian lebih kurang 1(satu) cm diatas media lumpur. Ember ditutup agar bagian dalam menjadi gelap dan dibiarkan selama 1 – 2 jam.

Cacing akan bergerombol diatas media dan dapat diambil dengan tangan untuk dipisahkan dari media/lumpur. Cacing tersebut dimasukkan dalam bak pemberokan selama 10-12 jam. Cacing siap di berikan kepada benih ikan ataupun dijual

 

budidaya cacing sutra termasuk peluang bisnis yang cukup menjanjikan. cacing sutra banyak dicari oleh penggemar ikan hias dan para pembenih ikan. Kandungan gizi cacing sutra sangat bagus yaitu terdiri dari 57% protein dan 13% lemak sehingga sangat bagus untuk pertumbuhan ikan dan jauh lebih bagus dibanding pakan ikan lainnya. Cacing sutra akan menigkatkan kualitas ikan hias kita dengan menguatkan warna dan stamina ikan.  Sampai saat ini pasokan cacing sutra masih banyak dipenuhi dari tangkapan alam bukan budidaya, sehingga sangat bergantung pada musim. Karena pada musim hujan cacing sutra sangat sulit dicari.

Usaha budidaya cacing sutra ini sebenarnya dilakukan untuk menjawab permintaan pasar yang masih sangat kurang persedianya. Jika cacing sutra bisa dibudidayakan secara maksimal, maka usaha pembenihan ikan tidak perlu susah-susah mencari cacing sutra yang langka. Untuk pemasaran cacing sutra biasanya dijual dalam bentuk fresh dan bisa dijual dalam bentuk cacing beku. Penjualan cacing sutra dalam bentuk beku akan meminimalkan resiko tercampur mikroorganisme berbahaya bagi ikan dan bisa awet disimpan dalam jangka waktu lama.

Habitat Hidup Cacing Sutra

Hal penting yang perlu difahami dalam usaha budidaya cacing sutra adalah mengenali habitat hidup asli cacing sutra. Cacing sutra banyak ditemukan pada selokan, parit, saluran air dan tempat-tempat sejenis itu yang mengandung bahan-bahan organik. Bahan-bahan organik ini biasanya berasal dari limbah rumah tangga, limbah pasar yang mengalir ke saluran pembuangan.

Cacing sutra akan hidup dan berkembang dengan baik pada lokasi tersebut dalam kondisi air yang tergenang namun tidak mengalir dengan deras. Pada media yang memiliki kandungan oksigen terlarut 2-5 ppm, Cacing sutra akan berkembang dengan cepat. Selain itu kondisi yang diperlukan adalah kandungan amonia.

Langkah Usaha Budidaya Cacing Sutra

Usaha Budidaya cacing sutra bisa dilakukan dengan mengunakan bak semen, bak terpal atau media yang lain. Yang penting cacing sutra tidak bisa meninggalkan tempat untuk budidaya. Untuk ukuran bisa menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Tempat untuk budidaya cacing sutra diberi air dan lumpur yang halus, diusahakan yang memiliki kandungan makanan bagi cacing sutra yang cukup. Media ini bisa diisi dengan limbah kolam lele atau kotoran ayam yang sudah difermentasi atau bahan lain yang sudah sarat dengan bahan-bahan organik yang diperlukan cacing sutra.

Setelah media budidaya dimasukkan lalu diaduk-aduk hingga semua bercampur.Langkah selanjutnya adalah pengendapan selama 3-5 hari. Pastikan setelah lumpur mengendap, permukaan lumpur rata, jika belum rata , diratakan dengan alat atau kayu. Setelah lumpur mengendap dan permukaan rata, upayakan ketinggian air dari permukaan lumpur sekitar 5-10 cm.

Setelah media untuk budidaya cacing sutra siap dan lumpur halus, langkah selanjutnya adalah penebaran benih cacing sutra. Yang penting diperhatikan dalam penebaran ini adalah kepadatan tebar indukan cacing sutra. Kepadatannya kira-kira 1 liter induk cacing sutra ditebarkan pada 30m2 kolam untuk budidaya.

Langkah selanjutnya dalah perawatan bibit cacing sutra. Selama masa perawatan cacing sutra, kolam dialiri air dengan debit yang kecil, namun ketinggian air harus dijaga pada 5-10 cm. Pada masa pemeliharaan ini perlu diulangi pemberian air buangan limbah lele atau kotoran ayam yang sudah difermentasi dengan EM4.

Pada usia penebaran 10 hari, bibit cacing sutra sudah mulai tumbuh halus dengan nampak seperti benang merah yang ada di permukaan lumpur. Cacing sutra bisa dipanen dalam waktu 2 sampai 3 bulan. Pemanenan cacing sutra juga bisa dilakukan bertahap sekaligus mengurangi kepadatan dan memberi kesempatan yang lain untuk tumbuh.

Ciri-ciri jika cacing sutra siap dipanen adalah apabila lumpur dipegang akan terasa kental. Cara memanennya adalah dengan menaikkan ketinggian air menjadi sekitar 50-60 cm. Pada kondisi ini cacing sutra akan cenderung naik sehingga mudah untuk dipanen. Waktu pemanenan adalah pagi dan sore hari saat cuaca tidak terlalu panas. Lumpur diaduk-aduk kemudian dimasukkan dalam baskom untuk selanjutnya dicuci dan dibersihkan dengan saringan.

Setelah cacing sutra dibersihkan langkah selanjutnya adalah pemberokan dengan waktu 10-12 jam. Langkah pemberokan cacing sutra ini dilakukan agar cacing sutra bebas dari mikroorganise berbahaya bagi ikan hias atau benih ikan. Setelah bersih cacing sutra siap untuk dijual.

ppm3 copy